Pirelli....... jadi ban pilihan saya untuk menggantikan ban IRC bawaan si koneng. Dulu waktu masih pelihara si Biru, merek Pirelli ini saya hindari karena termasuk ban sultan dengan harga selangit dan millagenya yang tidak tinggi tapi memang sih banyak yang bilang kalau bannya lengket betul sama aspal. Ternyata lain hal nya dengan Pirelli Angel Scooter ini yang harganya bersaing dengan ban mid class sekelasnya seperti Michelin, Maxxis, dan lainnya karena sudah dibikin lokal di Indonesia. 

Ban si koneng dari yang awalnya 110/80-14 dan 140/70-14 saya ganti dengan 120/70-14 dan 140/70-14 dengan merogoh kocek sekitar Rp. 880,000 sudah sama pasang. Alasan utama ganti ban sebenarnya untuk upgrade pengereman dan cornering. Bagaimana reviewnya setelah berjalan sejauh 3,300 km dengan kondisi shock breaker semuanya masih standar pabrikan serta sudah dibawa touring juga? cekidot....




Sebenarnya untuk ring 14 masih ada seri Diablo Scooter yang harganya ada diatas Angel Scooter tapi gak saya lirik dengan pertimbangan pengalaman. Loh kok pengalaman? karena Diablo Scooter ini kembangan sedikit mirip seperti S21 sedangkan Angle Scooter kembangan ramai seperti Pilot Road 4, pengalaman saya PR4 ini yang banyak kembangan lebih jagoan di jalan basah dibanding S21 dengan performa di jalan kering yang tidak jauh berbeda. PR4 reviewnya bisa dilihat disini, kalau S21 bisa dilihat disini. Selain itu beli ban mahal-mahal kalau komponnya gak habis pasti dalam 2 tahun akan keras dan gak enak lagi dipakai itu ban.


Cari sana sini tidak ada informasi yang tepat dari produsen mengenai kompon yang dipakai di Angel Scooter ini tapi menurut saya komponnya lebih lunak dari IRC bawan si koneng bisa jadi kompon medium. Meskipun begitu bulu-bulu ban dibagian tengah baru pada hilang setelah riding sekitar 200 km.


Penggantian ban depan dari 110/80 ke 120/70 (ini karena Angel Scooter tidak ada size 110/80) jelas terlihat dari bagian samping yang ban nya terlihat lebih pendek jadi terlihat jaraknya antara ban dan spakbor berbeda dengan ketika pasang 110/80 yang terlihat tinggi dan tidak berjarak dengan spakbor. Meski sizenya naik 1 tingkat tapi menurut saya sih lebarnya tidak terlalu kelihatan. Bagian belakang saya pertahankan di 140/70 karena saya tetap mau pakai spakbor kolong dan hanya bisa naik 1 tingkat ke 150/70 yang menurut saya juga tidak akan terlihat banyak perbedaannya.



Ban juga dibedakan design nya antara ban depan dan belakang dimana ban depan alurnya terbalik untuk menaikkan performa pengereman sedangkan ban belakang lebih diutamakan untuk cornering dan akselerasi.


Performance
Setelah pasang coba jalan untuk berangkat kantor pagi jam 05.30 supaya traffic masih sepi, coba melibas jalanan dengan speed tinggi ternyata beberapa kali motor kok narik terus ke bawah ketika cornering, hehehe ternyata efek lilinnya masih sangat terasa. Efek agak licin karena lilin ini baru berasa hilang total dari ban depan dan belakang setelah riding sekitar 400 km baru ban keluar performance aslinya tidak terasa lagi licin-licinnya. Tadinya sempat kepikir apa kalau panas ban ini kedodoran grip nya? ternyata hanya karena masih ada lilin dan tergerus cukup lama lilinnya sampai 400 km inilah feelnya jadi rada aneh.




Angel Scooter (AS) VS IRC performance
  • Pengereman ban depan dry road ==> AS lebih unggul 

  • Pengereman ban depan wet road ==> AS lebih unggul

  • Pengereman ban belakang dry road ==> AS sedikit lebih unggul

  • Pengereman ban belakang wet road ==> AS lebih unggul

  • Feed back cornering & cornering grip at dry road ==> AS jelas lebih superior lebih sering dan pede untuk mentokin standar si koneng atau bahkan dek bagian bawahnya tapi sering mentok karena ground clearance motor yang juga turun karena ban depan profilnya 120/70 bukan 110/80


Korban cornering





  • Feed back cornering & cornering grip at wet road ==> feedback lumayan ok ketika basah cuma menurut saya masih rada licin jadi masih ada kekurang pede an didalam hati. Kalau hujan deras menurut saya malah lebih nge grip dibanding yang gerimis-gerimis saja. Ketika hujan deras atau semua jalanan sudah rata basahnya malah bikin jauh lebih pede untuk gas pol dan rem pol dengan ban ini.


  • Aquaplanning ==> tidak dirasakan sama sekali karena banyak kembangannya bisa jadi karena tenaga mesinnya kecil tidak seperti pakai moge

  • Light offroad and gravel track ==> keduanya berimbang hampir sama feedbacknya tapi AS berasa lebih empuk bantingannya. Serta tida se licin IRC bawaan

  • Millage ==> cannot talk to much sementara baru bulu-bulu halus saja yang hilang, kelihatannya sih compond nya medium to hard karena sudah tanda-tanda keausan minim
after 3,300 km

after 3,300 km (itu batu yang nyempil bukan paku)

  • Crossing road marking (marka jalan) ==> sedikit unggul AS jarang berasa olengnya

  • AS lebih banyak kerikil suka nyempil karena profil nya banyak celah

Touring boncengan pakai side bag via Cikalong Wetan



Verdict
Dengan harga Rp 880,000 untuk ban middle class menurut saya sangat worthed dengan performanya yang ada di atas ban bawaan standar IRC. Apalagi ketika naik motor nyawa kita tergantung pada beberapa cm ban yang menapak di aspal. Kalau bro and sis doyan speeding and cornering ban ini boleh dicoba pasti feel motornya akan berbeda tidak seperti dengan ban standar. Menurut saya malah coba ganti ban dulu baru upgrade part lainnya yang dirasa kurang.

Bagaimana dengan long range reviewnya? bisa di cek disini ketika saya ganti ban.

Semoga bermanfaat....